Bertolak dari krisis: mengubah pola pikir dan kepemimpinan

by Jennie S. Bev on September 1, 2010

in Indonesia


[Artikel ini pernah dimuat di majalah Forum Manajemen Prasetiya Mulya, Juli-September 2010 halaman 34-39.]

Download PDF file Forum Manajemen Juli-Sept2010

Note to English-speaking readers:
The article is in Indonesian language. I wrote about how the current US crisis changed the way I see things, particularly pertaining to finances and managing funding.

oleh Jennie S. Bev, San Francisco

Perubahan selalu ada. Musim selalu berganti, senang dan susah, berhasil dan gagal, kuat dan lemah. Semua filsuf barat maupun para sufi mempertanyakan, “Apa arti semua ini?” Untuk menjawabnya, kita tidak perlu menjadi seorang pemikir, karena kita tidak henti-hentinya menjawab pertanyaan ini setiap kali mengalami perubahan, baik kecil maupun besar, baik dari luar maupun dari dalam.

Inti dari Ilmu Manajemen Bisnis sendiri adalah bagaimana memperbesar kemungkinan sukses dalam setiap perubahan. Jadi, “perubahan” sepatutnya selalu disadari dan diantisipasi oleh setiap pelaku bisnis manapun.

Ada dua jenis perubahan berdasarkan sumbernya: eksternal maupun internal. Dalam dunia bisnis, ini bisa diartikan dari dalam maupun dari luar organisasi, baik yang berorientasi laba maupun nirlaba. Dalam pandangan mikroskopik, organisasi merupakan organisme yang terdiri dari individu-individu yang bekerja bersama-sama membentuk suatu sistem. Secara otomatis, para individu ini juga mengalami perubahan setiap kali organisasi mengalaminya. Mungkin bisa kita imajinasikan sebagai borg di dalam serial Star Trek, di mana pikiran satu borg tersampaikan secara serial kepada setiap borg yang terkait.

Perubahan yang berasal dari dalam biasanya lebih mudah dikontrol karena variabel-variabelnya lebih mudah dijangkau dan dimengerti (controllable and understandable variables). Contohnya adalah perubahan-perubahan dalam ranah sumber daya manusia, sistem, dan struktur. Perubahan yang berasal dari luar lebih sulit dikontrol dan dimanipulasi. Contohnya adalah perubahan-perubahan dalam ranah lingkungan bisnis, regulasi, dan iklim bisnis internasional.

Sebagai pribadi dan pelaku bisnis yang melakukan migrasi dari Tanah Air ke Tanah Seberang (dari Indonesia ke Amerika Serikat) ketika mengalami Krisis Moneter Asia 1997 dan Resesi Amerika Serikat saat ini, dua kali perubahan eksternal drastis telah dan sedang saya lalui. Migrasi pertama dari Indonesia ke AS membawa guncangan perubahan eksternal yang tiada tara karena selain perubahan lingkungan bisnis, juga dijumpai perubahan tata cara melakukan bisnis serta iklim bisnis dan iklim regulasi bisnis. Untuk ini, penyesuaian diri terutama dalam hal mindset, perlu dilakukan secara sadar.

Perubahan mindset secara umum di dalam masyarakat dan di dalam dunia bisnis lokal merupakan tantangan tersendiri. Secara umum, budaya AS sangat inspiratif dan positif, di mana masyarakat Kalifornia sangat terbuka terhadap imigran dari segi apresiasi budaya dan apresiasi terhadap individu. Kata-kata pujian sangat sering terdengar setiap saat dan perlindungan konsumen ditunjang dengan aplikasi hukum yang tegas seperti penukaran (exchanges) dan pengembalian (returns) produk-produk yang telah dibeli. Selain itu, asumsi “semua orang adalah orang baik” atau “praduga tidak bersalah” sangat terasa. Sebagai contoh, tidak ada bagian penitipan barang di pasar-pasar swalayan sebagaimana di Indonesia. Contoh lainnya adalah otomatisasi pengecekan melalui sistem online point-of-sale (POS) cek individu yang diterima di setiap tempat transaksi yang memberikan rasa aman.

Perubahan mindset dari kultur Indonesia yang ketimuran restriktif menjadi kultur Amerika yang kebaratan terbuka membentuk gaya bisnis adaptif yang diterapkan dalam strategi dan kepimpinan. Dari dua bidang ini, mengubah strategi bisnis jauh lebih sederhana dibandingkan dengan mengubah gaya kepemimpinan. Perencanaan (planning) menjadi lebih fleksibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sistem operasional juga direvisi menjadi lebih bertahap sehingga bisa dengan fleksibel dibongkarpasang jika diperlukan.

Dalam kepemimpinan, faktor-faktor kultural sangat menentukan keberhasilan. Sebagai contoh, target (goal) dan tenggat waktu (deadline) jauh-jauh hari sudah ditekankan. Gaya komunikasi juga memperhatikan nuansa-nuansa Amerika yang sedikit banyak berbeda dengan kultur negara-negara barat lainnya. Yang paling dirasakan perbedaannya adalah kesetaraan antar jender laki-laki perempuan, kesetaraan antara manajer dengan pegawai biasa, kesetaraan antara penjual dan pembeli.

Tidak ada “office boy” di Tanah Seberang, terutama di perusahaan-perusahaan kecil dan menengah. Setiap manajer bertanggungjawab untuk menjaga kebersihan ruang kantor dan kamar kecil. Serta seorang sekretaris bisa saja seorang laki-laki. Profesionalisme dengan ditunjang kesopanan tanpa guyon-guyon seksis, rasis, dan ageist (mentertawakan orang berusia lanjut) didukung dengan hukum antidiskriminasi di tempat kerja yang diimplementasikan oleh negara. Jadi, hati-hatilah berguyon sebagai seorang manajer, karena hukum siap melibas Anda.

Sebagai pelaku bisnis yang mengoperasikan bisnis-bisnis berbasis Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan investasi properti, faktor-faktor eksternal sangat mempengaruhi mutasi pola pikir, strategi, dan kepemimpinan. Antisipasi saja tidak memadai tanpa disertai dengan implementasi perubahan baik secara seketika maupun bertahap. Sekarang mari kita bicarakan perubahan besar kedua yaitu di masa resesi global saat ini.

Dalam bisnis HAKI, faktor eksternal perubahan daya beli masyarakat sangat terasa di masa paceklik ini. Konsekuensinya antara lain adalah adaptasi harga otomatis (automated pricing adaptation) dan diversifikasi produk skala raksasa (colossal product diversification) dengan menggunakan konsep The Long Tail, di mana bukan lagi Teori Pareto 80/20 yang berlaku, namun menyediakan sebanyak mungkin produk yang siap untuk dibeli dalam jumlah minimal.

Dengan kata lain, dengan menyediakan ratusan maupun ribuan produk yang siap dibeli beberapa unit saja akan menghasilkan revenue yang sudah patut diperhitungkan. Contoh nyata keberhasilan strategi ini adalah Amazon.com, di mana jumlah produk yang dijual mencapai ribuan namun mayoritas hanya terjual beberapa unit saja. Ceruk mikro (micro niche) sudah menjadi model bisnis yang umum.

Perubahan teknologi penerbitan, format dan pendiseminasian produk-produk intelektual juga sangat terasa dengan semakin menjamurnya dunia Internet dan perangkat baca elektronik mutakhir seperti SmartPhone, iPhone, iPad, eReader, Nook, dan Kindle. Ini mendorong peremajaan format produk sehingga memadai untuk mengikuti perkembangan teknologi (technology advancement). Siapa yang mengikuti perubahan format teknologi mempunyai kans yang besar untuk menjadi pemenang.

Selain itu, respek terhadap HAKI merupakan perlindungan bagi pebisnis produk-produk intelektual. Faktor eksternal regulasi bisnis ini masih sangat minim di Indonesia, sedangkan di Tanah Seberang sudah menjadi bagian dari perangkat bisnis yang siap untuk dipakai jika diperlukan. Untuk itu, biasanya setiap perusahaan mempunyai legal advisor yang handal dalam hal-hal yang bisa menjadi legal issue. Asuransi perusahaan biasanya juga mencakup biaya-biaya hukum yang mungkin timbul.

Dalam bisnis properti, resesi global mengubah pandangan tentang apa itu hutang baik (good debt) dan hutang tidak baik (bad debt). Sesungguhnya resesi global dunia yang dialami saat ini bersumber dari bisnis hipotik yang semrawut dan beresiko tinggi di Amerika Serikat. Hipotik seperti ini dikenal sebagai pinjaman subprima (subprime loan). Dalam masa jabatannya, mantan presiden George W. Bush mengeluarkan kebijakan bagi dunia perbankan untuk memberikan prioritas bagi para imigran dan mereka yang berdaya rendah untuk mendapatkan hipotik rumah dengan mudah. Alasannya: setiap individu berhak untuk memiliki rumah.

Dengan prinsip kapitalisme, lampu hijau bagi bank-bank retail yang sudah bergabung dengan bank-bank investasi ini disambut baik dengan menerbitkan program-program pemberian kredit agunan rumah (hipotik) yang kreatif. “Kreatif” di sini berupa persyaratan sangat mudah, dengan bunga introduksi yang sangat kecil, dan segala macam iming-iming diskon bahkan amortisasi negatif. Dengan kemudahan mendapatkan pinjaman inilah, iklim bisnis di masa “property bubble” ini semakin riskan.

Kebijakan-kebijakan perusahaan banyak terpengaruh oleh iklim bisnis, termasuk keputusan-keputusan yang saya ambil. Investasi properti tampaknya sangat menarik saat itu karena nilai rumah dikondisikan untuk terus melambung karena kemudahan pinjaman menelurkan demand yang tinggi. Di masa puncak harga properti, saya melakukan investasi beberapa milyar Rupiah, yang sekarang sudah tidak bernilai sama sekali.

Sebagai pebisnis imigran, kerugian ini sangat besar dan membalikkan kembali roda perjalanan bisnis saya ke bagian bawah siklus. Di masa-masa sulit seperti sekarang, kembali fleksibilitas pola pikir diuji. Strategi bisnis dan gaya kepemimpinan kembali mesti disesuaikan. Pada saat yang sama, keberanian untuk “berjalan di atas api” perlu dipertahankan. Singkatnya, perlu tekad baru. Misalnya, kalau dalam masa pasca-krisis ekonomi dulu kredit agunan properti dipandang sebagai “good” loan, maka sekarang harus dipertimbangkan masak-masak untung-ruginya ketimbang menyewa.

Akhir kata, keberhasilan menjalani perubahan tidak pernah terlepas dari keberhasilan mempertahankan mindset yang sesuai. Walaupun tidak ada yang absolut, namun prinsip bahwa mindset seorang pelaku bisnis idealnya adaptif dan fleksibel perlu dipertahankan. Mindset sukses demikian merupakan kunci bangkit dari kegagalan, baik kegagalan sebagai pelaku bisnis sebagai individu maupun kegagalan perusahaan sebagai organisasi.[]

Jennie S. Bev adalah pengusaha, kolumnis internasional dan intelektual berbasis di Kalifornia Utara. Ia bisa dijumpai di JennieSBev.com.

Previous post:

Next post: